Selasa, 29 Maret 2016

UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH



KEBIJAKSANAAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SMP NEGERI 2 HARAU

BAB I
 PENDAHULUAN


A.Latar Belakang



Dengan bergulirnya Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan, terjadi perubahan pada sistem diberbagai Organisasi pemerintahan, termasuk Departemen Pendidikan Nasional. Sebelum diberlakukannya otonomi daerah, pengelolaan dan pembinaan SLTP dilaksanakan secara “Top Down” Oleh pemerintah pusat melalui Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi, yang kita kenal dengan Sentralisasi. Sentralisasi Pendidikan selama ini tidak memenuhi tuntutan dan keinginan rakyat serta pemerintah sendiri yaitu belum membaiknya mutu pendidikan. Indikasi mutu pendidikan tersebut belum baik diantaranya adalah (1) lulusan / out put yang dihasilkan belum bisa dikatakan siap pakai, (2) Disiplin dan akhlak siswa yang kurang baik, (3) Rendahnya nilai rata-rata UN. Setelah hampir 16 tahun desentralisasi pendidikan ternyata mutu lulusan yang dihrapkan juga belum menggembirakan Lulusan/tamatan lembaga pendidikan di berbagai jenjang atau satuan pendidikan baru sekedar siap tahu, itupun masih dalam keadaan ‘pas-pasan’.
 Gambaran keadaan di atas juga terjadi pada SMP Negeri 2 Harau. Sebagaimana tergambar dari hasil ujian akhir nasional yang belum menggembirakan. Seringnya siswa berkeliaran pada saat jam pelajaran berlangsung. Disamping itu rasa hormat siswa terhadap orang tua dan guru juga rendah. Berbagai faktor yang ikut mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan tersebut adalah:
1.      Kesadaran dan kebersamaan guru dalam melaksanakan tugas,
2.      Kemauan siswa untuk meraih prestasi,
3.      Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, dan
4.      Peran serta orang tua dan masyarakat.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut Kepala Sekolah perlu menyusun suatu kebijaksanaan yang mengarah pada perbaikan / peningkatan mutu. Perubahan-perubahan ini diarahkan dalam hal pengelolaan dan pembinaan Seluruh komponen sekolah. Kebijaksanaan ini nantinya dijadikan acuan dalam menghadapi tantangan dan arus globalisasi dan informasi yang setiap saat mengalami perubahan. Kebijaksanaan yang dijadikan acuan tersebut nantinya dijabarkan  dalam bentuk Rencana Operasional yang terkoordinir, sehingga pemberdayaan dan langkah kerja sekolah tergambarkan dengan jelas dan mempunyai kerangka yang diharapkan dapat meningkatkan peranan sekolah sebagai lembaga yang memproses/memproduksi ‘otak’ peserta didik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemantauaan selama ini dan data-data yang diperoleh dapat digaris bawahi bahwa mutu lulusan SMP Negeri 2 Harau belum menggembirakan (rata-rata Nilai UN pada empat tahun terakhir sebagai indikator).
Masih rendahnya hasil Ujian Nasional tersebut sangat dipengaruhi oleh.
1.      Kesadaran dan kebersamaan guru dalam melaksanakan tugas,
1)      Adanya kesenjangan  dan tidak seiramanya para pendidik dalam menjalankan tugas sehari-hari, baik sebagai pengajar, pendidik, ataupun sebagai pelatih.
2)      Kurangnya kesadaran dalam menjalankan tugas, melemahnya disiplin dan tidak ditaatinya peraturan yang berlaku serta diabaikannya etika profesi guru juga menjadi penyebab rendahnya atau tidak optimalnya pelaksanaan tugas sehingga mutu lulusan menurun.
2.      Kemauan siswa untuk meraih prestasi,
1)      Kurangnya motivasi untuk meraih prestasi yang baik dari para siswa.
2)      Keengganan menambah pengetahuan dari membaca.
3.      Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung,
1)      Terbatasnya buku pegangan baik untuk guru maupun untuk siswa.
2)      Tidak berfungsinya perpustakaan sekolah, sebagai sumber belajar.
3)      Kurangnya buku-buku penunjang dan pelengkap.
4.      Peran serta orang tua dan masyarakat.
1)      Kurangnya kontrol sebahagian orang tua terhadap anaknya.
2)      Keadaan ekonomi orang tua yang rendah.
3)      Kurangnya perhatian masyarakat terhadap lembaga pendidikan.
4)      Maraknya Tempat-tempat ‘play station dan warnet yang menyediakan akses game on line ’.
5)      Mudahnya mengkases situs-situs yang tidak bermanfaat / mempengaruhi perkembangan peserta didik.
6)      Tayangan televisi yang kurang mendidik
Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penulis mencoba menggambarkan apa yang seharusnya dilakukan oleh Kepala Sekolah. Agar pembahasan ini lebih terarah, maka makalah ini penulis beri judul”Kebijaksanaan Kepala Sekolah dalam meningkatkan Mutu Pendidikan di  SMP Negeri 2 Harau”.
C. Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk memaparkan upaya yang perlu dilakukan Kepala Sekolah Kecamatan Harau dalam peningkatan mutu tersebut. Makalah ini juga diharapkan akan dijadikan bahan masukan bagi para pengambil kebijakan pendidikan di SMP N 2 Kecamatan Harau dan Kabupaten Limapuluh Kota , dalam menyusun kebijaksanaan dan perencanaan peningkatan mutu pendidikan SMP N 2 Kecamatan Harau, disamping itu diharapkan juga akan bermanfaat bagi setiap sekolah dalam rangka melaksanakan fungsi  dan tugas sekolah  secara efektif dan efisien . Dengan demikian hasil yang akan diperoleh akan memenuhi harapan, baik harapan orang tua, masyarakat, dan tujuan pendidikan nasional umumnya.

BAB. II
LANDASAN TEORI

A.    Batasan
Dunia Pendidikan dewasa ini terus mendapat kritikan dari berbagai pihak, hal ini muncul karena dunia pendidikan itu belum mampu memecahkan beberapa persoalan pokok yang dihadapi, seperti masalah kualitas, kuantitas, relevansi, dan manajemen pendidikan itu sendiri. Dengan kata lain belum tersentuhnya akar permasalahan dalam dunia pendidikan yang menjadi penyebab menurunnya mutu lulusan, rendahnya budi pekerti siswa.
Menyikapi batasan di atas, diperlukan rumusan perencanaan sebagai implementasi dari kebijaksanaan yang disusun. Rumusan tersebut hendaknya menyeluruh dan mengena pada kepentingan pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan pendidikan tingkat SLTP  khususnya.
Tujuan Pendidikan SLTP (sebagai bagian dari pendidikan dasar adalah )
“Untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota maasyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah”.(PP.No.28/1990 Bab II Pasal 3).

Berbagai batasan tentang kebijaksanaan telah dikemukakan oleh para ahli, namun secara keseluruhan batasan-batasan tersebut mempunyai arah dan maksud yang sama. Sebagai gambaran berikut ini dikutip beberapa pendapat tersebut.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:131) dikatakan bahwa kebijaksanaan adalah:
“(1). Rangkaian konsep dqan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak (ttg pemerintgahan, organisasi, dsb).(2). Pernyataan cita-cita tujuan prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalamn usaha mencapai tujuan”.

Menurut .Friedrick (Islamy 1997:13)
“Kebijaksanaan adalah serangkaian tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dengan menunjukkan hambatan-hambatan dan kesempatan kesempatan terhadap pelaksanaan usulan kebijaksanaan tersebut dalam rangka mencapai tujuan tertentu”.

Menurut .Anderson   (Islamy 1997:13):

“Kebijaksanaan adalah serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seseorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu”.

Menurut Raksasa taya (Islamy 1997:13) :

“Kebijaksanaan sebagai suatu taktik dan strategi yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan dengan memiliki tiga elemen yaitu (1). Identifikasi dari tujuan yang ingin dicapai, (2). Taktik atau strategi dari berbagai langkah untuk mencapai tujuan yang diinginkan, (3).  Penyediaan berbagai input untuk memungkinkan pelaksanaan secara nyata dari taktik atau strategi”.

Dari batasan di atas , dapat disimpulkan bahwa kebijaksanaan merupakan serangkaian  tindakan yang ditetapkan /direncanakan  untuk dilaksanakan oleh  suatu lembaga atau  pemerintah dan berorientasi pada suatu tujuan demi kepentingan dari lembaga atau masyarakat.
Implikasi dari pengertian tersebut adalah:
1.      Kebijaksanaan dalam bentuk perdananya berupa penetapan tindakan-tindakan atau rencana yang akan dilaksanakan.
2.      Kebijaksanaan tidak cukup hanya dinyatakan, tetapi harus diimplikasikan.
3.      Setiap rencana dilandasi dengan maksud dan tujuan tertentu.
4.     Setiap rencana ditujukan untuk suatu kepentingan bersama
B.     Faktor yang Mempengaruhi perumusan Kebijaksanaan.
Sebelum merumuskan suatu kebijaksanaan, Kepala SMP N 2 Kecamatan Harau terlebih dahulu harus memperhatikan keadaan sekarang yang meliputi:
-          Jumlah Guru yang tersedia
-          Jumlah Rombongan Belajar.
-          Kualifikasi Guru.
-          Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung.
Dengan data yang tersedia dapat dijadikan acuan dalam merumuskan kebijaksanaan pendidikan yang mengacu pada peningkatan mutu tersebut.
a.      Analisa Masa Sekarang
Dari data yang diperoleh (Profil Sekolah), dapat diketahui bahwa:
(1). Jumlah Guru                                 :  35 orang
(2). Jumlah Peserta didik                    :  374 orang
(3). Jumlah Rombongan Belajar          :  16 Kelas
(4). Kualifikasi Guru                           :  97% S.I
(5). Tenaga Tata Usaha                      : 8 orang (1 orang Security dan Kebun/halaman)  
(6). Sarana-Prasarana Pendukung       :
      -   Gedung / Lokal                         : Cukup
      -   Perpustakaan                             : ada
      -   Laboratorium                            : ada
      -  Buku- Pegangan Siswa              :  1; 4    (kurang)
      -  Buku pegangan/referensi Guru  :  1; 1    (kurang)
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa keadaan sekarang mendukung untuk peningkatan mutu lulusan SMP Negeri 2 Harau, sedangkan yang menjadi kendala adalah seperti apa yang digambarkan pada permasalahan dan ketersediaan buku pelajaran
b.      Aspek Pendukung yang dipertimbangkan
Kebijaksanaan dalam menyusun perencanaan yang dirumuskan harus pula memperkirakan aspek-aspek yang menjadi titik pusat dari perencanaan yang ditinjau dari keadaan sekarang dan gambaran kedepannya.
1.      Aspek ekonomi
Pertumbuhan ekonomi yang belum begitu stabil akan mempengaruhi perencanaan, karena pertumbuhan ekonomi dapat dianggap sebagai pendorong dari pembangunan pendidikan. Dewasa ini tingkat perekonomian masyarakat di Taram belum begitu menggembirakan dan perlu disadari bahwa sebahagian besar orang tua siswa adalah petani, namun melalui kerja sama dengan instansi lain diharapkan tingkat perekonomian masyarakat umumnya akan lebih baik.
2.      Aspek Sosial
Aspirasi orang tua terhadap makna pendidikan kurang menggembirakan, dimana para orang tua kurang mengawasi anak-anaknya dalam hal belajar. Disamping itu para orang tua murid cendrung menyerahkan sepenuhnya pada sekolah, sehingga akuntabilitas pendidikan hanya bertumpu pada sekolah dan pemerintah.
3.      Aspek Demografis/Kependudukan
Dinamika penduduk di Taram juga menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijaksanaan dalam rangka penyusunan rencana peningkatan mutu lulusan ini. Betapapun bagusnya rencana yang disusun, tanpa memperhatikasn faktor kependudukan, kecil kemungkinan tercapainya tujuan yang diharapkan. Secara geografis penyebaran penduduk tidak merata.
4.      Aspek Politik dan Pemerintah
Aspek politik merupakan aspek pendukung yang mungkin juga menjadi penghambat kebijaksanaan Kepala SMP N 2 Harau dalam menyusun rencana peningkatan mutu lulusan. Kurangnya kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industry serta belum maksimalnya pelacakan alumni serta isu-isu politik ikut mempengaruhi dan akan mempersulit ruang gerak Kepala Sekolah dalam merumuskan kebijaksanaan peningkatan mutu ini.
Aspek Pemerintah dalam hal ini adalah, didalam merumuskan kebijaksanaan, Kepala Sekolah  harus berorientasi pada program pendidikan Standar Nasional, yaitu menyesuaikan dengan kurikulum yang berlaku, serta ketersediaan dana pendukung yang dukucurkan oleh pemerintah.
C.    Pendekatan / Model-Model Perumusan Kebijaksanaan
Sehubungan dengan berbagai faktor yang mempengaruhi perumusan kebijaksanaan, maka diperlukan pendekatan-pendekatan / model-model dalam perumusannya.
Pendekatan yang dapat digunakan dalam perumusan kebijaksanaan menurut Siagian (1986:213) adalah (1).pendekatan formal, (2) pendekatan intuitif-antisipatif, (3) pendekatan yang oportunistik, (4) pendekatan yang inkremental, dan (5) pendekatan yang adaptif.
Memperhatikan kenyataan yang ada maka untuk peningkatan mutu lulusan sebaiknya menggunakan pendekatan:
1.      Pendekatan Inkremental.
Pendekatan ini pada dasarnya adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menyederhanakan permasalahan yang dihadapi sedemikian rupa, sehingga lebih mudah untuk mengatasinya.
Dari uraian permasalahan yang disampaikan di awal rumusan ini, terlihat kompleksnya permasalahan yang menyebabkan rendahnya mutu lulusan di SMP N 2 Harau. Sehingga penanganan permasalahannya harus menyeluruh.
2.      Pendekatan Adaptif
Arus globalisasi, pasar bebas dan dinamika organisasi serta dinamika penduduk menjadi dasar utama dipakainya pendekatan adaptif ini. Pendekatan ini digunakan untuk mengubah berbagai strategi atau sasaran yang ingin dicapai sehubungan dengan sukarnya mengidentifikasi faktor ketidakpastian masa depan.
Dengan penggunaan kedua pendekatan ini diharapkan sasaran yang akan dicapai membuahkan hasil yang sesduai dengan harapan semua fihak.

BAB. III
PEMBAHASAN

A.    Rumusan
Strategi dasar kebijakan pendidikan nasional yakni pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, relevansi pendidikan, kualitas pendidikan dan efisiensi pendidikan.
Dari strategi dasar tersebut dapat disusun suatu kebijaksanaan berdasarkan prioritasnya yakni, perluasan kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatan mutu pendidiakan, efisiensi dan efektifitas serta relevansi pendidikan dan pembinaan kebudayaan.
B. Prioritas Kebijaksanaan
Merealisasikan peningkatan mutu pendidikan dengan meningkatnya mutu lulusan sebagai indikatornya adalah dengan meningkatkan dan melaksanakan berbagai kegiatan sebagai berikut :
1.      Menyelenggarakan pendidikan dan latihan bagi Kepala Sekolah, Guru dan Tokoh Masyarakat.
Pendidikan dan latihan bagi Kepala Sekolah lebih mengacu pada peningkatan kualitas kepemimpinan dan pemahaman terhadap pembaharauan, sehingga pelaksanaan tugasnya akan lebih baik.
Menurut Fulan ( materi perkuliahan “Pengembangan Organisasi - Materi perkuliahan “Pengembangan Organisasi - Gistituati - : - : 2002:6) “terlaksana atau tidaknya suatu perubahan tergantung pada bagaimana kepala sekolah mengkonsepsikan dan memahami peranannya”. Dengan demikian perubahan haruslah dimulai dari Kepala Sekolah terlebih dahulu, kemudian baru diikuti oleh orang-orang yang dipimpinnya.
Pendidikan dan latihan bagi guru diarahkan pada peningkatan kualitas profesi dan pengetahuan yang berhubungan dengan spesifikasi tugasnya. Pendidikan dan pelatihan bagi tokoh masyarakat lebih diarahkan pada sosialisasi tentang akuntabilitas pendidikan. Pertanggung jawaban pendidikan tidak hanya diserahkan pada pemerintah dan guru, tetapi harus mengikut sertakan seluruh komponen masyarakat.
Menurut Tilaar (2000 : 90)
 “Apabila pendidikan disingkirkan dari tanggung jawab dan partisipasi masyarakat, maka pendidikan itu akan menjadi asing dari masyarakat karena tidak memberikan jawab terhadap kebudayaan nyata”

Jelaslah bahwa pendidikan tersebut tidak hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga merupakan tanggung jawab masyarakat secara keseluruhan.
2.      Mengadakan Lomba Kreativitas Guru dan Siswa.
Lomba kreativitas   ini dimaksudkan untuk memicu guru dan siswa agar lebih kreativ dalam melaksanakan tugasnya baik sebagai pendidik maupun sebagai orang yang dididik. Hal ini memungkinkan guru dan siswa untuk selalu menambah wawasan pengetahuannya minimal melalui pemanfaatan perpustakaan sekolah.
3.      Memberikan Penghargaan pada mereka yang berprestasi.
Penghargaaan adalah salah satu motivasi sehubungan dengan prestasi yang telah dicapai baik sebagai guru maupun siswa , sehingga akan menambah semangat bagi guru atau siswa yang berprestasi itu ataupun dapat dijadikan pendorong semangat bagi guru atau siswa lainya.
4.      Mengadakan MGMP .
Dengan MGMP, diharapkan guru-guru dapat bertukar fikiran dan informasi dan berbagi pengalaman satu dengan yang lain, sehingga kelemahan satu orang guru dapat diatasi dengan adanya musyawarah tersebut.
5.      Promosi Sekolah.
Promosi sekolah tujuannya untuk memperkenalkan sekolah pada calon peserta didik sehingga calon peserta didik (kelas 6) tertarik untuk melanjutkan pendidikannya ke SMP 2 Harau dan tidak lagi berlomba melanjutkan pendidikannya ke sekolah lain  .
6.      Mengadakan Pertemuan rutin dengan Kepala Sekolah (MKKS), dan dengan guru.
Pertemuan ini dimaksudkan untuk memupuk semangat dan minat guru agar tetap konsisten dengan pelaksanaan tugasnya. Hal ini sebagai bagian dari koordinasi yang terus-menerus harus dilakukan oleh Kepala Sekolah.
7.      Mengoptimalkan peran serta masyarakat dan perantauan .
Menurut Mayor (Tilaar: 1999: 115)

Otonomi daerah meminta suatu bentuk perencanaan yang efisien yaitu dengan mengikut-sertakan masyarakat di dalam menjaring kebutuhan-kebutuhannya yang nyata, di dalam hidup bermasyarakat, di dalam kehidupan industri yang berada di dalam lingkup lokal maupun global”

Peran serta masyarakat dalam merencanakan peningkatan mutu menjadi hal penting, karena masyarakatlah yang akan menikmati hasil pendidikan tersebut. Disamping itu dengan transparansi dan akuntabilitas Kepala Sekolah yang baik, bukan tidak mungkin masyarakat dan perantauan yang sukses dan mempunyai dana yang lebih akan menyumbangkan dananya pada dunia pendidikan. Kita memaklumi bahwa tingkat kepuasan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri. Hal ini juga dapat direalisasikan oleh setiap sekolah dengan membentuk Ikatan Alumni dan Komite Sekolah.
8.      Meningkatkan Disiplin Sekolah
Peningkatan disiplin ini diarahkan pada semua pihak yang ada di sekolah baik Kepala sekolah, Guru, Pegawai atau Siswa. Tanpa disiplin yang baik secara keseluruhan rumusan ini tidak akan dapat dilaksanakan.
Dari beberapa alternatif diatas, perlu disusun kriteria untuk mengevaluasi alternatif yang ditinjau dari segi biaya, , efektivitas, waktu dan manfaat atau dampak yang ditimbulkannya. Dari alternatif yang ada maka dipilih alternatif yang mungkin dapat Segera dilaksanakan dan berdampak besar terhadap peninggkatan mutu pendidikan.
C. Implemntasi
Agar rencana ini terlaksana perlu dirancang suatu langkah konkrit yang harus dilaksanakan oleh Kepala Sekolah. Setelah rencana ini disyahkan melalui pertemuan dengan berbagai unsur seperti Komite Sekolah, Guru dan instansi vertikal, barulah diimplementasikan .Pengimplementasian rancangan ini dapat dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan cara :
1.         Mengadakan rapat koordinasi dengan guru (rapat bulanan).
2.         Mengadakan supervisi kelas  dalam rangka pembinaan dan pengawasan.
3.         Memberi izin dan anjuran kepada guru dan pegawai untuk melanjutkan   pendidikannya dengan biaya sendiri.
4.         Memberikan penghargaan dan mengadakan berbagai lomba kreativitas siswa dan guru dalam rangka peringatan hari-hari besar NasionaL.
5.         Mengadakan MGMP di tingkat Sekolah untuk seluruh mata pelajaran   dan menugaskan seluruh guru untuk mengikuti MGMP yang diadakan di level Kecamatan atau kabupaten.
6.      Mengadakan pertemuan dengan orang tua dan masyarakat serta alumni.
7.      Kepala Sekolah memberikan sanksi yang tegas bagi guru dan pegawai yang kurang disiplin.
8.      Mengadakan kerja sama dengan instansi terkait lainnya dalam rangka menertibkan tempat-tempat ‘play station / warnet’.
9.      Mengadakan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri
D.    Evaluasi
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang didisain untuk menilai hasil-hasil program yang berbeda   secara khusus dalam hal objeknya. Evaluasi perlu dilakukan karena bagaimanapun baiknya program, konsekwensinya baru dapat diketahui jika program tersebut telah dilaksanakan.
Evaluasi diarahkan sehubungan dengan dinamika organisasi dan dinamika penduduk dikaitkan dengan situasi sosial, ekonomi, politik yang berkembang.
Evaluasi dilakukan untuk melakukan terminasi dari rencana, dimana jika rencana ini tidak sesuai maka perlu direvisi dan diperbaharui.
Evaluasi dilaksanakan dengan memperhatikan     :
1.      Efektifitas dan efisiensi kegiatan.
2.      Keresponsifan
3.      Kecukupan atau ketersediaan layanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan.
4.      Keputusan dan kesamaan.
Dalam melaksanakan kebijaksanaan yang disusun Kepala Sekolah haruslah memperhatikan beberapa rekomendasi berikut:
1.      Hindari mengatakan “jika seandainya”.
Pernyataan “jika seandainya“ menurut Block (Materi perkuliahan “Pengembangan Organisasi - Gistituati - : 2002 :7) “adalah suatu ekspresi ketergantungan dan meningkatkan ketidak berdayaan untuk melakukan sesuatu”. Jadi mulailah dengan menanyakan apa yang bisa saya lakukan. Maksudnya adalah kita mempunyai kepercayaan diri atas kemampuan yang kita miliki.
2.      Mulailah dengan yang kecil, berfikir besar: jangan overplan atau overmanage.
Menurut Fullan (Materi perkuliahan “Pengembangan Organisasi - Gistituati - :  2002 : 7)
Agar suatu pembaharuan betul-betul terlaksana, janganlah merencanakan implementasi yang sekaligus besar dan kompleks, karena ini akan membuat kita cemas dan sulit dalam implementasinya. Melainkan mulailah denganmelaksanakan kegiatan yang kecil dan sederhana terlebih dahulu, baru kemudian secara bertahap diperbesar, menyeluruh dan kompleks.

Dalam menyusun rencana Kepala Sekolah harus memulainya secara bertahap  dan dimulai pada hal-hal yang kecil terlebih dahulu.
3.      Fokuskan pada hal-hal yang penting dan mendasar terlebih dahulu.
Mengingat keterbatasan waktu, biaya, tenaga dan kemampuan; Kepala Sekolah harus mampu merumuskan hal-hal yang penting dan mendasar untuk dikerjakan terlebih dahulu. Dengan memulai dari hal-hal yang penting dan mendasar akan memudahkan untuk melakukan rencana lainnya.
4.      Hilangkan rasa takut salah atau tidak berani menanggung resiko.
Betapapun bagusnya rencana yang disusun, jika Kepala Sekolah memiliki rasa takut salah dan tidak berani menanggung resiko, maka hal ini akan menghambat upaya perbaikan mutu tersebut. Menghilangkan rasa takut untuk melakukan kesalahan menurut Fullan (Materi perkuliahan “Pengembangan Organisasi - Gistituati - : 2002 : 9) dapat dilakukan dengan “ to be selective, to do it on small scale, and to make a positive rather than a negative act of courage”.
5.      Berdayakan yang lain dibawah kita.
Sebagai manusia biasa tentu kita memiliki keterbatasan. Untuk itu Kepala Sekolah harus melibatkan berbagai pihak dalam pengimplementasian dari kebijaksanaan yang telah disusun.
Menurut Petterson, et. all (Materi perkuliahan “Pengembangan Organisasi - Gistituati - : 2002 : 10)
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan yang kompleks dalam pendidikan membutuhkan inisiasi dari atas kebawah, tapi jika sudah menyangkut masalah implementasinya dibutuhkan adanya pembagian kewenangan dan tanggung jawab (shared power and responsibility) serta pengambilan keputusan secara bersama

Apapun bentuk rencana yang disusun upayakan melibatkan berbagai pihak dalam pelaksanaannya. Dengan demikian rasa memiliki dan kebersamaan akan tercermin dalam setiap langkah kerja kedepan.
6.      Rumuskan suatu visi yang relevan dengan tujuan dan perubahan.
Agar perbaikan mutu dapat terlaksana, maka Kepala Sekolah harus merumuskan suatu visi yang logis dan relevan dengan tujuan. Rumusan visi tersebut hendaknya jangan terlalu muluk-muluk, namun visi yang dimungkinkan akan tercapai dengan baik.
7.      Putuskan apa yang tidak akan dilakukan.
Kapan saatnya bernegosiasi dan kapan saatnya memutuskan merupakan hal yang harus dipahami Kepala Sekolah. Maksudnya adalah Kepala Sekolah harus mengerti  dengan situasi mana ia akan menerima usulan atau interupsi dari pihak lain dan kapan pula ia harus menolak usulan tersebut.
8.      Bangun peserikatan atau persekutuan.
Menurut Block (Materi perkuliahan “Pengembangan Organisasi - Gistituati - : 2002 : 12) “untuk membangun persekutuan ini tidak mudah. Ada beberapa kemampuan yang diperlukan, diantaranya kemampuan melakukan negosiasi, mempercayai dan dipercaya, berkomunikasi, dan memberdayakan (empowering) anggota”. Dengan  membangun persekutuan  atau perserikatan akan memudahkan Kepala Sekolah dalam menerima dukungan. Persekutuan tersebut dapat saja dilakukan dengan orang-orang dari jajaran birokrasi, ataupun dengan para orang tua dan masyarakat yang peduli pada pendidikan.
9.      Tahu kapan harus bersikap hati-hati.
Tidak takut berbuat salah atau tidak takut menanggung resiko bukan berarti  Kepala Sekolah berbuat semaunya tanpa mengenal batas. Dalam hal ini harus diperhatikan saat-saat kapan kita harus berhati-hati dan mawas diri dalam berbuat.
Meskipun Pembinaan dan pengelolaan SLTP yang desentralisasi bukan merupakan hal yang baru bagi Kepala Sekolah, dalam menyusun kebijaksanaan  pengelolaan sekolah yang menjadi tanggungjawabnya paparan di atas dapat dijadikan salah satu referensi.


BAB. IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Peningkatan mutu pendidikan telah selalu menjadi perhatian para stakeholder pendidikan.  Menyikapi hal itu Kepala Sekolah perlu menyusun suatu kebijaksanaan. Dalam menyusun Kebijaksanaan diperlukan komitmen yang jelas agar hal-hal yang dirasa mendesak dan mendasar tersentuh dengan segera.
Disiplin kerja, baik Kepala Sekolah, Guru Pegawai ataupun siswa merupakan hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam upaya peningkatan mutu ini. Dengan meningkatnya disiplin tentu berbagai upaya yang digariskan akan terlaksana dengan baik.
B.     Saran-saran
Era globalisasi dan arus informasi menuntut adanya berbagai perubahan dalam organisasi. Untuk melaksanakan perubahan, Kepala Sekolah harus:
1.      Hindari mengatakan “jika seandainya”.
2.      Mulailah dengan yang kecil, berfikir besar: jangan overplan atau overmanage.
3.      Fokuskan padahal-hal yang penting dan mendasar terlebih dahulu.
4.      Hilangkan rasa takut salah atau tidak berani menanggung resiko.
5.      Berdayakan yangg lain dibawah kita.
6.      Rumuskan suatu visi yang relevan dengan tujuan dan perubahan.
7.      Putuskan apa yang tidak akan dilakukan.
8.      Bangun peserikatan atau persekutuan.
9.      Tahu kapan harus bersikap hati-hati.
10.  Ciptakan “mutual trust and respect” dari bawahan dan ciptakan juga iklim yang mampu membuat bawahan berkreasi.
Adapun hal-hal yang perlu terus menerus dilakukan adalah :
1.      Peningkatan disiplin dengan memantau kelapangan 
Pemantauan kelapangan adalah langkah konkrit yang perlu ditumbuh kembangkan dimasa-masa mendatang. Dengan pemantauan yang berkesinambungan tentu kebiasaan-kebiasaan yang selama ini kurang baik akan berangsur-angsur lenyap dari permukaan.
2.      Memberikan motivasi dan pengertian pada orang tua siswa dan masyarakat agar selalu berupaya berperan aktif dalam peningkatan mutu pendidikan anak-anaknya.
3.      Upaya-upaya yang penulis paparkan tersebut dilaksanakan secara terus menerus agar tidak terkesan dipaksanakan dan tidak terkesan separoh hati dalam melaksanakannya.







Catatan kecil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar